Mengajar bagai memberi obat, ada aturan dosisnya
••
Mengajar bagai memberi obat, ada aturan dosisnya ••
Syekh Said
Faudah berkata :
Saya sering
sekali melihat pelajar di awal perjalanannya ada yang langsung pegang Majmu’
Imam Nawawi, sibuk membacanya padahal menyelesaikan dengan baik matan kecil
dalam Fiqih pun belum. Ada yang sibuk membaca Tafsir Imam Ar-Razi, Tafsir Imam
Al-Qurthubi, Fathul Bari, dan semacamnya, padahal belum belajar baik ilmu
alatnya. Ingin memehami kitab-kitab besar tersebut dengan langsung
membolak-baliknya tanpa mengikuti metode yang digariskan para ulama, tidak
mungkin bisa.
Ilmu-ilmu
keislaman ada 2 kategori: alat (pengantar) dan maqashid (tujuan). Ilmu-ilmu
alat seperti: Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah. Sedangkan ilmu-ilmu maqashid
seperti: Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadits. Tidak dibenarkan bagi siapapun
menyelami ilmu maqashid sebelum memahami dengan baik ilmu alat. Ilmu didapat
dari belajar, sementara belajar ada tahapan dan jalurnya. Jika tidak diikuti,
maka yang ada hasilnya adalah kebingungan dan hanya membuang-buang waktu.
Saya selalu
menekankan pada seluruh pencari ilmu : ‘Carilah ilmu secara bertahap. Beri
waktu yang wajar untuk mendapatkannya. Jangan terburu-buru. Jalanlah lewat alur
yang sesuai dengan fitrah manusia’. Sayangnya, pembelajaran acak-acakan di era
ini di antara sebabnya adalah pihak pengajarnya sendiri. Beberapa pengajar
justru memilih kitab-kitab besar untuk dibacakan kepada para pemula.
Rasulullah
Saw mengarahkan para penyampai ilmu agama untuk menggunakan bahasa yang sesuai
dengan audiens. Oleh karenanya, kemudian ulama mengarang kitab dengan banyak
ragam; kecil-besarnya dan bahasa penyampaiannya, selain benar-benar membuat
semuanya saling terhubung rapi. Begitulah tugas mereka, sesuai dengan hadits
“khathibunnas ‘ala qadri ‘uqulihim”.
Ilmu Akidah
seperti ilmu-ilmu lain, ada metode untuk memahaminya. Di dalamnya ada
pembahasan yang amat detail dan rumit, ada yang mudah dipahami. Ada pembahasan
pokok, ada pembahasan cabang. Begitu juga dalil-dalil di dalamnya, ada yang
dalam dan rumit, ada yang mudah dicerna. Maka seorang pelajar harus bertahap,
mulai dari inti dan dasar ilmu, kemudian nanti masuk ke perincian.
Mulailah
dengan kitab matan yang konsentrasinya adalah memberikan pemahaman berbagai
istilah dan pembahasan dasar, yang dikarang untuk dihafal. Jangan terlebih dulu
otak-atik detail dalil ketika baru memulai. Mulailah dengan memahami dalil
secara global. Tidak baik juga terlalu banyak menyinggung perbedaan pendapat
para ulama di dalamnya, melainkan cukup perbedaan yang masyhur dan bermanfaat
untuk pembelajar di level awal.
Di antara
yang perlu juga di level ini adalah bagaimana guru menjelaskan kenyataan
urgensi ilmu ini dan menghilangkan syubhat dalam mempelajarinya. Perlu juga
bagi guru untuk tidak menarik pemula masuk ke dalam berbagai kerumitan. Bahkan
jika ada yang bertanya terlalu mendalam, maka guru perlu hanya menjawab bagian
yang perlu dipahami di level pemula ini, lalu mengarahkan bahwa yang ditanyakan
akan dibahas tuntas di level berikutnya.
Seorang
guru juga harus memperhatikan benar perbedaan tingkatan peserta didiknya.
Sebagian dari mereka ada yang unggul dalam memahami, keseriusan dan murajaah,
maka jangan terlalu dasar dalam menyampaikan materi demi menunggu yang tidak
seperti mereka. Juga jangan terlalu tinggi di atas mereka yang masih harus
sedikit-sedikit. Mengajar itu seperti memberi obat, ada dosisnya.
Comments
Post a Comment